BRMP Gandeng Akademisi Kembangkan Bibit Ayam Lokal Unggul Demi Perkuat Swasembada Pangan Nasional
MAKASSAR — Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) melalui Pusat Perakitan dan Modernisasi Peternakan dan Kesehatan Hewan (BRMP PKH) terus memperkuat langkah strategis untuk mewujudkan kemandirian pangan nasional. Pada Kamis (15/10/2026), BRMP menggelar Rapat Koordinasi Program Strategis Produksi Bibit Indukan Ayam Lokal di aula Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan.
Pertemuan ini merupakan momentum penting untuk memperkuat sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi. Acara tersebut dihadiri a.l. oleh Tenaga Ahli Menteri Pertanian, jajaran BRMP PKH, Balai Perakitan dan Pengujian Unggas dan Aneka Ternak (BRMP UAT), serta para pimpinan dan pakar dari Fakultas Peternakan IPB University dan Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin.
Dalam arahan Kepala BRMP Prof. Dr. Ir. Fadjry Djufry, M.Si. yang dibacakan oleh Kepala BRMP PKH Dr. drh. Agus Susanto M.Si., disampaikan bahwa penguatan subsektor peternakan merupakan bagian penting dari agenda pembangunan nasional Asta Cita untuk mencapai swasembada dan kemandirian pangan. Kebutuhan daging dan telur ayam nasional diproyeksikan terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk serta pelaksanaan program strategis pemerintah, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Pengembangan ayam lokal menjadi langkah strategis untuk mengurangi risiko ketergantungan industri perunggasan nasional pada sumber daya genetik impor atau Grand Parent Stock (GPS) dari luar negeri. Melalui ayam lokal unggul, kita tidak hanya memperluas pilihan sumber bibit yang terjangkau bagi peternak rakyat, tetapi juga membangun ketahanan peternakan yang mandiri dan berkelanjutan," jelasnya.
Melalui riset dan teknologi pemuliaan terarah, BRMP bersama para akademisi telah berhasil merakit dan mengembangkan berbagai galur unggul ayam lokal, di antaranya: Ayam KUB Janaka, Ayam KUB Narayana, dan Ayam Sensi Agrinak yang dikembangkan oleh BRMP; Ayam IPB D-1 hasil kolaborasi riset dengan IPB University, dan Ayam ALOPE hasil kerja sama dengan Universitas Hasanuddin. Galur-galur unggul ini dirancang agar memiliki daya tahan tinggi, sesuai dengan kondisi agroekosistem Indonesia, serta mampu menghasilkan daging dan telur secara optimal.
Rakor ini menghasilkan beberapa poin kesepakatan penting, diantaranya penyusunan peta jalan (roadmap) perbibitan yang terintegrasi, penentuan prioritas pengembangan sumber daya genetik, serta pembagian peran yang jelas antarinstansi. Pengembangan perbibitan ayam lokal ini mengusung pendekatan pentahelix yang melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, pelaku usaha, komunitas peternak, dan media.
Dengan kerja sama ini, hasil inovasi tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat diproduksi secara masif, dimanfaatkan langsung oleh peternak rakyat, serta menggerakkan roda ekonomi masyarakat. Melalui komitmen dan sinergi bersama ini, diharapkan ketersediaan bibit ayam lokal berkualitas semakin terjamin, pendapatan peternak meningkat, serta ketahanan pangan asal ternak di Indonesia semakin kokoh. (AP/NH)